Geni Kembar

IMG_1104

Menemukanmu seperti bangkit dari tidur yang panjang
Engkau menguak berlembar misteri, yang tersembunyi dalam kalbu dan memori
Mengenalmu seperti membaca ulang kisah panjang sejarah kehidupan
Mengerti dirimu mengingatkanku akan rasa
Memberikan jawaban akan deretan panjang pertanyaan

Tatapanmu menarikku ke dalam lautan,
Mengombang-ambingkanku di derasnya samudra
Timbul tenggelam entah akan berakhir di mana
Rasakan hawamu menghisapku ke dalam pasir waktu
hadirkan penggalan-penggalan kisah
semakin kucari, semakin aku tersesat ke dalamnnya
hingga terjebak di antara ruang dan waktu
buramkan jejak untuk kembali pulang

Ilusi dan kenyataan semuanya hanya teka teki
kau dan aku harus mencari jawabannya
kita terikat di ujung temali, aku, pun kau tak bisa berlari pun bersembunyi
Di mana pun sembunyi, kau membayangiku
Kemana pun berlari, aku ada di belakangmu
Semakin jauh berlari, semakin dekat jarak kita
Sekali pun meronta melepas diri, semakin kencang ikatannya

Kau, Aku..
Kita terjebak dalam ilusi
Ilusi luka di suatu masa di kehidupan lalu
Ilusi akan tanggung jawab
Ilusi yang tercipta dari rangkaian cerita hidup lalu, sekarang, maupun masa depan
Semua itu memerangkap Kau dan Aku dalam ketakutan bodoh

Ketakutan membutakan mata hati
Meracuni pikiran dengan asumsi
Jiwa berteriak tak terdengar, rasa terkubur ego
Pedih perih Sukma ini coba ditepis
Raga mencoba berbohong, Hati menangis tersembunyi
Laku, Bicara seperti wayang dimainkan dalang
Sedih sekali, Kita lakon wayang itu

Lebih dari ribuan tahun Jiwa kita saling mengenal
memintal pengertian dan pembelajaran dari setiap kehidupan yang kita singgahi
menganyam tangis dan senyuman di sepanjang perjalanan
menembus ruang waktu, memintal pemahaman akan cinta kasih sejati
Ingatkah kau akan janji pertemuan kembali
Ikrar jiwa sebelum menyatu dengan raga
Semesta jadi saksi perjanjian suci, sebelum kaki menapak bumi

Andai kau mengerti
Andai kita membaca halaman yang sama
Kutuliskan harapan dan doa pada buku kehidupan
cukup bagiku semua sandiwara ini
aku berhenti untuk mendengar kejujuran sukma
mencari tahu kesejatian jiwa

Lelah.. aku pun berhenti
semua penolakan dan pelarian kurasa sia-sia
Kuberhenti untuk diam, memberi waktu dan ruang untuk hati dan rasa
mengistirahatkan otakku dari rongrongan pikiran
Biarkan jiwa,ragaku untuk mendengarkan, merasa
Kudengar suara nurani, meresapi kejujuran diri
Sukma mengidungkan kemurnian
memantul di setiap titik rasa, bangunkan jiwa untuk sadar

Satu persatu Topeng kulepas, kubuang jubah ketakutan
kubiarkan kekhawatiran akan hujatan dan penolakan merasuki
Kuterima diriku, ceritaku, ketakutanku, pengalamanku dengan tangan dan hati terbuka
Kusentuh perlahan dengan rasa, kubelai jiwa ragaku dengan kasih dan cinta
akhirnya kutemukan jiwaku yang telanjang

Dan… Akhirnya aku mengerti
Aku memilih aku, karena cintaku padaku dan kehidupan ini
Bila pun fisik ini harus berjalan sendiri aku siap
Tubuh ini hanyalah sandangan yang selalu berubah di setiap simpang kehidupan
Karena kamu, aku, kita adalah satu,
Kesatuan bulatan energi dari cahaya kasih yang telah tercipta dari beribu jaman pertemuan dan kisah

Syukur dan terimakasihku akan semesta yang meniupkan napas kehidupan
Kuterima rentetan tugas panjang yang menyertai kelahiranku saat ini
Kuresapi kebijaksanaan yang harus kupahami dari kebingungan dan misteri rasa sakit
Aku paham hanya dia yang telah siap yang bisa mengupas jejak misteri derita dan rasa

Aku terbangun dalam keindahan
kuamati egoku mengelupas dan rontok, ketakutanku beranjak lalu menghilang
Cahaya berlompatan keluar, terang di mana-mana
kurasa ringan bagai kapas, aku melayang.. jiwaku bahagia

Terimakasihku untukmu
Yang membawaku ke kedalaman makna cinta murni
Tanpa syarat, tanpa ikatan, tanpa ketakutan, tanpa ego
Pembelajaran akan kebahagiaan sejati
Pengetahuan kesejatian jiwa manunggil
Pembebasan untuk memaknai kehidupan
Merdeka menjadi terang

4 Agustus 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *